Sekolah Dasar untuk Orang Utan: Proses Rehabilitasi yang Unik

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Juni 2026 | Sistem rehabilitasi orang utan di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) terdiri dari beberapa tahapan berjenjang, mulai dari baby school hingga forest school sebelum masuk ke fase akhir pra-pelepasliaran. Proses ini dilakukan untuk mempersiapkan satwa endemik Kalimantan tersebut agar bisa kembali hidup liar secara mandiri di habitat aslinya.

CEO BOSF, Jamartin Sihite, menjelaskan bahwa jenjang pendidikan orang utan ini diibaratkan seperti jenjang pendidikan pada manusia. Setiap tahap memiliki peranan penting dalam membentuk kemandirian mereka. "Setelah baby school mereka masuk forest school seperti SD sampai SMA, lalu ke pulau pra-pelepasliaran seperti universitas sebelum dilepasliarkan," jelas Jamartin.

Baca juga:

Pada tahap pra-pelepasliaran, orang utan sudah dilatih untuk benar-benar mandiri di lingkungan yang menyerupai habitat asli tanpa ketergantungan pada manusia. "Di pulau itu mereka belajar hidup sendiri, mencari makan, membuat sarang, dan mengenali ancaman tanpa bantuan manusia," ujarnya.

Selain itu, proses pembelajaran di sekolah hutan juga mencakup kemampuan paling dasar yang wajib dimiliki orang utan di habitat aslinya, seperti membuat sarang dan mencari makan. "Orang utan itu belajar membuat sarang, belajar mencari makan, dan keterampilan lain yang mereka butuhkan di alam liar. Jadi yang dipindahkan itu sekolahnya, bukan sekadar orangutannya," ujar Jamartin.

Baca juga:

Di sisi lain, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah masih memprihatinkan. Kepala Unit Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB Wilayah II untuk Lombok Timur dan Lombok Tengah, Supriadi, mengungkapkan bahwa rata-rata nilai TKA siswa masih rendah. "Rata-rata nilai TKA siswa kita masih tendah. Ini perlu bagi kita semua," ujar Supriadi.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Dikpora NTB segera bergerak mencari solusi. Langkah konkret yang diambil adalah menjalin kolaborasi dengan Balai Bahasa NTB untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa, yang menjadi akar masalah rendahnya hasil TKA. "Secara otomatis, literasi kita masih kurang. Padahal jika literasi dan numerasi bagus, hasil TKA akan ikut meningkat," tegas Supriadi.

Baca juga:

Dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa, Dikpora NTB akan memanggil Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan para kepala sekolah untuk menyusun strategi bersama. Rencananya, akan diadakan pelatihan khusus yang melibatkan 200 siswa sebagai percontohan. "Kami akan kumpulkan MGMP dan kepala sekolah. Apa sebenarnya masalahnya sehingga kemampuan siswa masih kurang? Lalu ajarkan ke siswa seperti apa trik yang harus dimiliki guru. Sebelum TKA ke depan, kita kumpul dan follow up," imbuh Supriadi.

Kesimpulan dari proses rehabilitasi orang utan dan upaya peningkatan kemampuan siswa adalah bahwa pendidikan dan rehabilitasi memerlukan proses yang panjang dan berjenjang. Dengan memahami kebutuhan dan kemampuan individu, baik itu orang utan maupun siswa, maka kita dapat membantu mereka mencapai potensi maksimal mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *