PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 April 2026 | Polisi Sragen kini mengungkap pola khas yang dipakai oleh jaringan penipuan kencan online yang telah merugikan ratusan korban di daerah Jawa Tengah. Modus ini tidak hanya terbatas pada wilayah lokal, melainkan terhubung dengan jaringan internasional yang baru-baru ini berhasil dibongkar di Thailand.
Kasus yang pertama kali terdeteksi di Sragen melibatkan seorang pria berusia tiga puluhan yang menghubungi korban lewat aplikasi kencan populer. Ia menyamar sebagai pria berkarier stabil, lengkap dengan foto model profesional. Setelah menjalin hubungan virtual selama beberapa minggu, pelaku mengalihkan pembicaraan ke topik keuangan, mengajak korban berinvestasi dalam platform kripto yang menjanjikan imbal hasil tinggi.
Ketika korban mulai menyalurkan dana, pelaku tiba-tiba mengirim pesan bahwa ia terpaksa mengakhiri pertemuan karena kehabisan bensin. Dalam beberapa menit setelah mengirim alibi tersebut, nomor telepon dan akun media sosialnya menghilang, meninggalkan korban dalam kebingungan dan kerugian finansial yang signifikan.
- Langkah pertama: Membuat profil palsu dengan foto menarik.
- Langkah kedua: Membangun kedekatan emosional melalui chat dan video call.
- Langkah ketiga: Memperkenalkan peluang investasi kripto atau bisnis palsu.
- Langkah keempat: Menggunakan alibi kehabisan bensin untuk menghilang.
Polisi setempat menemukan pola tersebut berulang kali, dan setelah mengumpulkan bukti, mereka melaporkan temuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) serta bekerja sama dengan Interpol. Penyelidikan lebih lanjut mengungkap adanya kaitan kuat dengan jaringan internasional yang baru-baru ini ditangkap di Phuket, Thailand.
Menurut laporan Imigrasi Thailand, seorang warga Indonesia bernama Awang Williang, yang dipandang sebagai otak di balik skema hybrid scam, berhasil ditangkap pada April 2026. Ia bersama sindikatnya menggunakan aplikasi kencan untuk menjerat investor, terutama warga Amerika Serikat, dengan janji investasi kripto yang ternyata palsu. Selama operasinya, mereka menyewa model untuk memperkuat kesan romantis, kemudian mengarahkan korban untuk menanamkan dana pada platform fiktif yang menampilkan keuntungan semu.
Kasus internasional ini memperlihatkan bahwa modus yang sama – memanfaatkan hubungan asmara digital untuk menipu – telah meluas hingga melibatkan ribuan korban di berbagai negara. FBI Amerika Serikat mengeluarkan Red Notice Interpol terhadap pelaku, menandai mereka sebagai ancaman siber global dengan kerugian mencapai lebih dari USD10 juta.
Di Indonesia, aparat menanggapi dengan meningkatkan pengawasan pada aplikasi kencan dan meluncurkan kampanye edukasi publik. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sragen mengeluarkan peringatan agar pengguna tidak mudah percaya pada tawaran investasi yang muncul secara tiba-tiba dalam percakapan pribadi. Mereka juga menekankan pentingnya verifikasi identitas serta melaporkan akun mencurigakan kepada pihak berwajib.
Penangkapan di Thailand memberikan sinyal kuat bahwa kolaborasi lintas negara dapat memutus rantai kejahatan siber yang semakin kompleks. Dengan dukungan Interpol, FBI, serta otoritas kepolisian Indonesia, diharapkan jaringan serupa dapat dibongkar lebih cepat, mengurangi potensi kerugian bagi masyarakat.
Kasus Sragen menjadi contoh konkret bagaimana teknik penipuan kencan online dapat bertransformasi menjadi skema investasi bodong berkelas internasional. Masyarakat diimbau untuk selalu skeptis terhadap tawaran yang terlalu menggiurkan, terutama ketika melibatkan transfer uang melalui platform yang tidak dikenal.
Upaya penegakan hukum terus berlanjut, dengan fokus pada penangkapan pelaku yang masih dalam pelarian dan pembekuan aset yang diduga berasal dari hasil kejahatan. Keterlibatan aparat di tingkat lokal, nasional, hingga internasional menjadi kunci utama dalam memberantas penipuan kencan online yang terus beradaptasi dengan teknologi baru.
