Kontak tembak TNI di Puncak Papua: 12 Warga Sipil Tewas, Pemerintah Duga Upaya Amankan Masyarakat

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 23 April 2026 | Pada pertengahan April 2026, terjadi baku tembak antara aparat keamanan Indonesia dengan kelompok bersenjata KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua. Operasi yang melibatkan gabungan TNI dan Polri ini menewaskan 12 warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, memicu kecaman keras dari Komnas HAM serta organisasi hak asasi manusia KontraS.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, menegaskan bahwa baku tembak tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan warga dan memastikan stabilitas bagi pembangunan di wilayah Papua. Dalam keterangannya pada 22 April 2026, Djamari menyatakan, “Seluruh upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap aman. Stabilitas keamanan sangat penting agar pembangunan dapat berjalan dengan baik.” Ia menambahkan bahwa pengamanan akan terus dilakukan secara berkelanjutan hingga situasi kondusif.

Baca juga:

Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan data sementara menunjukkan 12 korban tewas dan lima orang selamat dari insiden di Kembru. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menyebut bahwa korban termasuk kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan yang mengalami luka tembak serius. “Operasi penindakan yang dapat dikategorikan operasi militer selain perang yang menimbulkan korban jiwa warga sipil tak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,” tegasnya.

Organisasi KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) juga mengeluarkan pernyataan kritis. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menilai peristiwa di Kabupaten Puncak sebagai bagian dari “operasi balas dendam” yang memenuhi unsur pelanggaran HAM berat. Menurutnya, tindakan aparat tidak hanya terjadi di Puncak, namun juga di Kabupaten Dogiyai, di mana setidaknya 15 warga sipil tewas dalam serangkaian penembakan pada akhir Maret 2026.

Berikut adalah daftar beberapa korban tewas yang teridentifikasi secara publik:

Baca juga:
  • Seorang perempuan bernama Anita Telenggen, yang melaporkan diri dirinya ditembak di leher oleh tentara berseragam.
  • Martin Yobee (12), siswa SD yang tewas karena luka tembak di perut.
  • Yulita Pigai (70), wanita lanjut usia yang ditembak di paha.
  • Siprianus Tibakoto (19), yang ditembak di wajah.

Selain korban jiwa, sejumlah warga lain mengalami luka serius dan harus dirawat di rumah sakit setempat. Kondisi para pengungsi yang terpaksa tinggal di hutan juga semakin memprihatinkan, mengingat akses bantuan kemanusiaan masih terbatas.

Dalam rangka menanggapi serangkaian insiden, TNI melalui Koops Habema membantah keterlibatan prajuritnya dalam penembakan anak di Kampung Jigiunggi, menyatakan bahwa baku tembak terjadi karena serangan mendadak dari kelompok OPM. Namun, Komnas HAM tetap menuntut klarifikasi penuh dan penyelidikan independen.

Sementara itu, Satgas Operasi Damai Cartenz berhasil menumpas satu anggota KKB yang dikenal dengan inisial OE, pelaku penembakan terhadap prajurit TNI pada Maret 2024. OE terdeteksi di Kampung Wuyukwi, Distrik Mulia, Puncak Jaya pada 20 April 2026, dan tewas setelah perlawanan terhadap aparat. Penangkapan ini menunjukkan upaya aparat dalam menindak lanjuti jejak pelaku, meski tetap terjadi insiden fatal terhadap warga sipil.

Baca juga:

Berbagai pihak menilai bahwa pola kekerasan yang berulang di Papua memerlukan pendekatan yang lebih manusiawi. Komnas HAM menekankan pentingnya bantuan kemanusiaan dan akses ke wilayah terdampak, sementara KontraS menyerukan evaluasi kebijakan pertahanan dan penarikan pasukan dari zona konflik. Pemerintah pusat diharapkan dapat menyeimbangkan antara keamanan dan perlindungan hak asasi manusia.

Dengan situasi yang masih tegang, masyarakat Papua menanti langkah konkret dari pemerintah untuk menghentikan siklus kekerasan, memastikan keadilan bagi korban, serta mempercepat proses rekonstruksi dan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *