PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 April 2026 | Sejak Senin, 27 April 2026, Stasiun Cawang di Jakarta Selatan menampilkan perubahan visual yang mencolok. Pagar pembatas tradisional berbentuk jaring besi kini sebagian besar ditutup dengan lembaran plastik fiber berwarna putih, menciptakan tampilan yang lebih bersih dan teratur. Namun, perubahan ini menimbulkan konsekuensi ekonomi bagi para pedagang kaki lima yang telah lama beroperasi di sekitar stasiun.
Roni (43), seorang pedagang yang sudah menjajakan dagangannya di area belakang stasiun sejak tahun 1999, mengungkapkan rasa kagetnya atas keputusan penutupan yang dilakukan secara tiba-tiba dan sepihak. “Emang dari dulu udah dagang di sini, tapi penutupan kayak gini nggak pernah ada sebelumnya,” ujarnya kepada tim reporter. Ia menambahkan bahwa penutupan tersebut menghilangkan akses pembeli dari dalam stasiun, memutuskan interaksi yang selama ini terjadi lewat celah pagar.
Menurut Roni, penurunan penjualan mencapai hampir 40 persen setelah pemasangan plastik fiber. Beberapa pedagang, terutama yang menjual makanan pagi seperti nasi kuning, nasi uduk, dan kue pukis, terpaksa menghentikan usahanya. “Pagi-pagi udah nggak ada jualan lagi, sejak hari Selasa tutup, sampai Rabu masih kosong,” kata Roni.
Perubahan fisik pagar tidak hanya memengaruhi penjual, tetapi juga mengubah pengalaman penumpang. Ocha (26), seorang karyawan swasta yang rutin transit di Stasiun Cawang, mengakui bahwa area tersebut kini terlihat lebih rapi. “Dulu semrawut, sekarang putih bersih, jadi terasa lebih nyaman,” ujarnya. Namun, ia juga mencatat berkurangnya pilihan makanan ringan yang biasanya dibeli saat menunggu kereta.
Rian (27), pengguna KRL lainnya, menyoroti bahwa meskipun tampilan visual lebih teratur, dampak sosialnya signifikan. “Pedagangnya jadi kasihan, penjualannya berkurang drastis karena ruang jualan tertutup rapat,” ujarnya.
Berikut beberapa dampak utama yang dirasakan oleh komunitas setempat:
- Penurunan pendapatan pedagang hingga 40%.
- Berhentinya aktivitas ekonomi mikro di area stasiun.
- Kehilangan ruang interaksi sosial antara penumpang dan pedagang.
- Terbatasnya akses anak-anak yang biasanya berkumpul untuk menonton kereta.
- Peningkatan kebersihan dan keteraturan visual stasiun.
Roni berharap pihak pengelola stasiun mempertimbangkan penggunaan bahan yang lebih transparan, sehingga tetap dapat melihat aktivitas pedagang. “Kalau transparan, penumpang masih bisa lihat ada dagangan, jadi tidak terasa tertutup total,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan ekosistem kecil yang telah terbentuk selama puluhan tahun, yang tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga bagian dari identitas sosial kawasan.
Selain aspek ekonomi, penutupan pagar juga berdampak pada pengalaman anak-anak. Sebelum perubahan, anak-anak sering menyeberang peron untuk melihat kereta sambil menikmati camilan dari pedagang. Kini, mereka harus mencari celah lain atau bahkan menunduk dari bawah pagar, yang membuat mereka kecewa.
Para penumpang yang mengutamakan kebersihan dan keteraturan mengapresiasi perubahan tersebut, namun mayoritas setuju bahwa solusi yang lebih inklusif diperlukan. Menyeimbangkan estetika stasiun dengan keberlangsungan usaha mikro menjadi tantangan kebijakan transportasi perkotaan.
Secara keseluruhan, penutupan pagar Stasiun Cawang dengan plastik fiber menghasilkan dua sisi mata uang: tampilan visual yang lebih rapi dan teratur, serta kerugian signifikan bagi pedagang UMKM yang selama ini mengandalkan area tersebut sebagai sumber penghidupan. Ke depannya, dialog antara otoritas stasiun, pengguna, dan pedagang menjadi kunci untuk menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan.
