PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 Juni 2026 | Pasar modal Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan transparansi dan aksesibilitas. Penilaian dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dirilis baru-baru ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori pasar negara berkembang atau Emerging Markets.
Menurut Abra Talattov, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), penilaian MSCI ini dapat menjadi momentum penting untuk mempercepat penyempurnaan yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa agenda perbaikan pasar modal Indonesia sudah ada dan prosesnya sedang berlangsung.
Salah satu aspek yang disoroti MSCI adalah ketersediaan informasi dalam Bahasa Inggris. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mewajibkan seluruh laporan keuangan emiten untuk disampaikan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI, mengatakan bahwa pertemuan dengan MSCI merupakan agenda rutin untuk membahas berbagai isu terkait aksesibilitas pasar modal Indonesia. Ia menegaskan bahwa BEI ingin memperoleh penjelasan lebih rinci mengenai informasi apa saja yang dinilai belum tersedia dalam bahasa Inggris.
Penilaian MSCI ini juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026, menunjukkan resiliensi di tengah dinamika global.
Kondisi ini secara kolektif menunjukkan stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional yang masih terjaga dengan baik. Namun, masih terdapat sejumlah area yang dinilai perlu ditingkatkan, seperti transparansi informasi dan kualitas arus informasi.
Yusuf Randy Manilet, Economic Researcher CORE, menilai bahwa perbaikan sentimen tersebut dinilai masih berlangsung secara hati-hati dan belum mencerminkan perubahan tren yang kuat. Ia menambahkan bahwa penguatan rupiah patut diapresiasi, tetapi lebih banyak didorong oleh respons kebijakan Bank Indonesia melalui kenaikan suku bunga dan intervensi stabilisasi pasar.
Penilaian MSCI yang dirilis pada Jumat (19/6) pagi secara umum tidak mengalami banyak perubahan. Meskipun demikian, terdapat penyesuaian pada indikator Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level yang turun dari sebelumnya menjadi “-“.
Abra Talattov menegaskan bahwa penurunan ini tidak serta-merta mencerminkan kualitas pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Transparansi informasi memang faktor penting yang mempengaruhi persepsi investor.
BEI dan MSCI akan kembali melakukan pertemuan untuk membahas sejumlah poin yang menjadi sorotan MSCI. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan untuk membahas berbagai isu terkait aksesibilitas pasar modal Indonesia.
Kesimpulan dari penilaian MSCI ini adalah bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki potensi untuk meningkatkan transparansi dan aksesibilitas. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan stabilitas sektor keuangan, Indonesia dapat meningkatkan daya tarik bagi investor global.
