PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 04 Mei 2026 | Insiden siraman anak tertua Ahmad Dhani, Shafeea, pada 30 April 2026 menjadi sorotan publik setelah ayahnya mempublikasikan pernyataan yang menuding mantan istri, Maia Estianty, sebagai penyebab tangisan sang anak. Pada kesempatan itu, Shafeea tampak menangis di antara prosesi pernikahan kakaknya, El Rumi. Namun, seiring berjalannya waktu, bukti‑bukti yang diunggah di media sosial menunjukkan bahwa tangisan itu bukan karena provokasi, melainkan karena rasa haru melihat saudara kandungnya akan menikah.
Awalnya, Ahmad Dhani mengunggah foto putrinya dengan keterangan bahwa Shafeea menangis lantaran “drama” yang diciptakan Maia. Ia menyebut tindakan Maia sebagai “akting buruk” yang seolah‑olah menjadikan dirinya korban. Unggahan tersebut langsung memicu gelombang komentar keras dari warganet, yang menilai ayahnya memanfaatkan anaknya sebagai tameng dalam perseteruan pribadi dengan mantan istri.
Kurang dua hari kemudian, pada 2 Mei 2026, seorang pengguna di platform Threads dengan akun @kiandra.nara membagikan tangkapan layar percakapan di akun Instagram Shafeea. Pada gambar tersebut terlihat Shafeea menanggapi pertanyaan netizen dengan jelas: ia menangis karena terharu melihat kakaknya, El, akan melangsungkan pernikahan. Komentar tersebut juga menampilkan Shafeea memberi “like” pada balasan yang menjelaskan fakta tersebut, menegaskan bahwa ia tidak menuduh Maia melainkan mengungkapkan perasaan pribadi.
Reaksi netizen pun beragam. Sebagian besar menilai bahwa Ahmad Dhani seharusnya tidak melibatkan anaknya dalam konflik pribadi. Kritik tajam mengalir, menyebut ayahnya mengabaikan empati dan melanggar privasi anak yang masih berusia 15 tahun. Di sisi lain, sejumlah pendukung Maia menegaskan bahwa tuduhan ayahnya tidak berdasar dan bahwa Maia tidak pernah menyampaikan kata‑kata yang dapat memicu tangisan.
- “Pak Dhani seharusnya memisahkan urusan pribadi dengan anak,” – komentar pengguna Twitter.
- “Shafeea jelas bilang dia menangis karena terharu, bukan karena Maia,” – pengguna TikTok yang menandai akun resmi Shafeea.
- “Jangan pakai anak sebagai senjata politik, itu tidak etis,” – pengguna Instagram.
Tak lama setelah perdebatan ini memuncak, akun Instagram resmi Ahmad Dhani tiba‑tiba mengosongkan seluruh postingan, menghapus foto, video, dan keterangan yang sempat dipublikasikan. Langkah tersebut menimbulkan spekulasi bahwa Dhani menonaktifkan akun demi menghindari serangan lebih lanjut. Sahabatnya, Ari Lasso, mengomentari hal tersebut dengan kebingungan, sementara pihak keluarga menolak rumor bahwa penghapusan akun bersifat sengaja.
Kejadian ini menyoroti dinamika media sosial dalam mempertemukan publik dengan kehidupan pribadi selebritas. Penggunaan platform digital untuk mengungkapkan perasaan pribadi, sekaligus menyebarkan tuduhan, dapat dengan cepat berubah menjadi pertempuran opini yang melibatkan jutaan mata. Kasus Shafeea menunjukkan betapa pentingnya verifikasi fakta sebelum menilai suatu situasi, terutama ketika anak di bawah umur terlibat.
Secara keseluruhan, narasi yang terbentuk menunjukkan bahwa Shafeea menangis karena rasa kebahagiaan dan kebanggaan atas pernikahan kakaknya, bukan karena intervensi Maia. Ahmad Dhani, meski dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak‑blakan, kini harus menghadapi kritik bahwa ia tidak cukup mempertimbangkan dampak emosional pada anaknya ketika mengekspresikan kemarahan pribadi. Ke depan, diharapkan para figur publik lebih berhati‑hati dalam menyampaikan pendapat, terutama yang melibatkan anggota keluarga yang masih muda.
