Na Daehoon Parenting: Single Dad Tangguh Lindungi Anak di Tengah Kontroversi Keluarga

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 06 Mei 2026 | Na Daehoon, selebritas asal Korea Selatan yang kini tinggal di Indonesia, menjadi sorotan publik tidak hanya karena kariernya di dunia hiburan, melainkan karena peran barunya sebagai single dad. Sejak perceraian resmi pada akhir 2025, ia mengelola tiga anaknya dengan pendekatan yang tegas namun penuh kasih, menampilkan contoh nyata bagaimana seorang ayah tunggal dapat melindungi dan mendukung tumbuh kembang anak di era digital.

Berbagai penelitian dari American Psychological Association menegaskan bahwa kehadiran orang tua, baik secara fisik maupun emosional, berpengaruh besar pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Dukungan konsisten dapat meningkatkan harga diri, prestasi akademik, serta mengurangi risiko depresi pada remaja. Daehoon tampak menerapkan prinsip ini dengan selalu hadir dalam kegiatan harian anak‑nya, meski jadwal kerja dan tuntutan publikasinya sangat padat.

Baca juga:

Menurut kajian Universitas Airlangga tentang pentingnya peran ayah, beberapa faktor kunci meliputi disiplin konsisten, modeling perilaku, dan “availability” atau kesiapsiagaan ayah ketika anak membutuhkan bantuan. Ari Pratiwi, S.Psi., M.Psi., menekankan bahwa ayah tidak harus berada di setiap saat, tetapi harus mampu memberikan rasa aman melalui kehadiran yang dapat diprediksi. Daehoon mencontohkan hal ini dengan menjadwalkan waktu khusus bersama anak, mengatur dialog terbuka, serta terlibat dalam keputusan pendidikan dan kesehatan.

Gaya pengasuhan yang dipilih Daehoon dapat dikategorikan sebagai permissive‑democratic. Ia mengedepankan dialog terbuka, memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan pendapat, sekaligus menetapkan batasan yang jelas. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Psychology Today yang menyatakan bahwa pola pengasuhan demokratis dapat menumbuhkan kemandirian sekaligus rasa tanggung jawab pada anak. Bagi seorang single dad, konsistensi dalam standar dan pemantauan perilaku menjadi krusial untuk menghindari kebingungan.

Kehidupan pribadi Daehoon tak lepas dari sorotan media, terutama setelah ia membatasi akses mantan istri, Jule, ke anak‑nya. Kontroversi memuncak ketika Safrie Ramadan, seorang influencer, menampilkan foto anak Daehoon tanpa izin, memicu tuntutan hukum dan permintaan maaf publik. Safrie kemudian mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara terbuka, sementara Daehoon menegaskan hak asuh penuh dan pentingnya melindungi kesehatan mental anak dari eksposur berlebih.

Baca juga:

Psikolog Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menambahkan bahwa pengenalan pasangan baru kepada anak harus dilakukan dengan hati‑hati. Anak‑anak, khususnya balita, berada pada fase pembentukan rasa aman (basic trust). Memperkenalkan figur dewasa yang datang dan pergi dapat menimbulkan “attachment fatigue”—kelelahan emosional akibat perubahan hubungan yang terus‑menerus. Ia merekomendasikan penantian minimal enam sampai dua belas bulan setelah perceraian sebelum melibatkan anak dalam hubungan baru, serta memastikan stabilitas dan komitmen jangka panjang pasangan tersebut.

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diadopsi oleh ayah tunggal, terinspirasi dari Daehoon dan kajian psikolog:

  • Jadwalkan waktu berkualitas harian bersama anak, tanpa gangguan pekerjaan.
  • Gunakan bahasa yang terbuka dan empatik untuk membahas perasaan anak.
  • Tetapkan aturan yang konsisten, namun beri ruang bagi anak mengambil keputusan sesuai usia.
  • Hindari menampilkan anak di media sosial tanpa persetujuan tertulis, melindungi privasi dan keamanan mereka.
  • Jika berencana memperkenalkan pasangan baru, pastikan hubungan sudah stabil selama minimal enam bulan dan beri penjelasan yang sederhana kepada anak.
  • Libatkan profesional (psikolog atau konselor) bila anak menunjukkan tanda stres atau kebingungan.

Na Daehoon kini menjadi contoh nyata bahwa menjadi single dad tidak menghalangi kemampuan memberikan pola asuh yang kuat dan penuh nilai. Dengan memadukan dukungan ilmiah, kesadaran akan privasi, serta komitmen emosional, ia menunjukkan bahwa ayah dapat menjadi figur utama dalam membentuk generasi yang resilient.

Baca juga:

Kesimpulannya, tantangan single dad memang kompleks, tetapi dapat diatasi melalui konsistensi, kehadiran emosional, dan kebijakan yang mengutamakan kesejahteraan anak. Pendekatan Daehoon menjadi pelajaran berharga bagi orang tua modern yang harus menyeimbangkan peran profesional, publik, dan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *