Totok Sirih Ferizka: Praktisi Palembang yang Viral, Dihujat Dokter namun Tetap Dilirik 250 Pasien Setiap Hari

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 26 April 2026 | Ferizka Utami, seorang praktisi tradisional yang mengklaim menguasai teknik totot sirih, kembali menjadi sorotan publik setelah video terapi bayi yang menimbulkan tangisan keras menjadi viral di media sosial. Beroperasi sejak 2012 dari rumah yang sekaligus berfungsi sebagai klinik alternatif di Palembang, ia mengaku dapat mengatasi berbagai keluhan pada bayi, mulai dari kolik hingga gangguan tidur, dengan cara menekan titik-titik tertentu pada kulit menggunakan daun sirih.

Metode totok sirih yang dipopulerkan oleh Ferizka melibatkan proses menumbuk daun sirih hingga menjadi pasta, kemudian diaplikasikan pada titik akupunktur tradisional yang diyakini dapat menstimulasi energi tubuh. Ferizka menjelaskan bahwa kombinasi efek antiinflamasi alami sirih dan stimulasi saraf dapat menenangkan sistem pencernaan bayi, sehingga mengurangi gejala kolik. Ia menegaskan bahwa praktik ini telah dijalankan secara konsisten selama lebih dari satu dekade, dan menurut catatannya, lebih dari 10.000 bayi telah menerima terapi tersebut.

Baca juga:

Kontroversi memuncak pada akhir 2023 ketika seorang ibu mengunggah video singkat yang menampilkan bayi mereka menangis histeris setelah sesi totok sirih. Video tersebut menimbulkan gelombang kritik luas, terutama dari kalangan medis. Dokter anak dan perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan kunjungan ke lokasi praktik untuk menilai keamanan prosedur tersebut. Mereka menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung efektivitas atau keamanan totot sirih pada bayi, serta menyoroti potensi risiko infeksi dan trauma kulit.

Berbagai pihak medis mengemukakan daftar keberatan utama:

  • Kurangnya studi klinis yang terkontrol untuk membuktikan manfaat terapi.
  • Potensi iritasi kulit atau reaksi alergi terhadap sirih.
  • Ketidaksesuaian prosedur dengan standar praktik medis anak.

Meski mendapat sorotan negatif, Ferizka melaporkan bahwa jumlah pasiennya tidak berkurang. Menurut data yang ia bagikan kepada media lokal, klinik rumahnya menerima rata-rata 250 kunjungan pasien per hari, dengan sebagian besar berasal dari wilayah Palembang dan sekitarnya. Pendapatan harian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, menjadikan praktiknya tidak hanya populer tetapi juga menguntungkan secara finansial.

Baca juga:

Dalam sebuah pernyataan resmi, Ferizka menolak tuduhan bahwa ia menipu orang tua. Ia menegaskan bahwa setiap sesi totok sirih dilakukan setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari orang tua, serta dilengkapi dengan penjelasan lengkap mengenai prosedur dan kemungkinan efek samping. Ferizka juga menambahkan bahwa ia telah membuka ruang dialog dengan pihak berwenang, namun mengaku bahwa regulasi yang ada belum memberikan pedoman yang jelas bagi praktisi tradisional.

Para ahli hukum dan etika kesehatan menilai bahwa kasus ini menyoroti celah regulasi dalam bidang pengobatan alternatif di Indonesia. KPAI menyatakan niatnya untuk melakukan penyuluhan kepada orang tua mengenai pentingnya memilih layanan kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah. Sementara itu, Kementerian Kesehatan diperkirakan akan meninjau kembali kebijakan izin praktik bagi terapi non‑medis yang melibatkan anak-anak.

Di tengah tekanan, Ferizka tetap optimis. Ia berencana memperluas layanan dengan menambah fasilitas kebersihan dan melatih asisten yang memiliki latar belakang medis dasar. Menurutnya, kolaborasi antara ilmu tradisional dan kedokteran modern dapat menciptakan pendekatan holistik yang lebih inklusif bagi masyarakat.

Baca juga:

Kesimpulannya, fenomena totok sirih Ferizka menunjukkan dinamika antara tradisi, kepercayaan publik, dan standar ilmiah. Sementara sebagian besar orang tua terpesona oleh klaim cepat mengatasi masalah bayi, komunitas medis tetap menuntut bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Ke depannya, regulasi yang lebih tegas dan edukasi publik menjadi kunci untuk menyeimbangkan kebebasan berpraktik dengan keselamatan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *